Selasa, 13 April 2010

DIFTERIA KASUS

TINJAUAN KASUS

No. Reg                       : 007.
Tgl. Masuk                  : 20 Desember   2009 
Tgl. Pengkajian           : 20 Desember  2009
Ruangan                      : Mawar  RS Pertamina Jakarta.
Diagnosa Medis          : Difteria.

A.    PENGKAJIAN
1.      Identitas pasien :
Nama                        :    An. F
Umur                        :    2 th.
Sex                           :    Laki-laki.
Tanggal lahir             :    30 Desember 2007
Berat Badan lahir     :    2700 gr
Agama                      :    Islam.
Alamat                      :    Jl. Gatot subroto no 243 rt 4 rw7 Jakarta Selatan.
2.      Identitas Penaggung Jawab :
Nama                        :    Tn. B.
Umur                        :    25 th.
Sex                           :    Laki-laki.
Pekerjaan                  :    Wiraswasta.
Alamat                      :    Jl. Gatot subroto no 243 rt 4 rw7 Jakarta Selatan.
Hub dgn klien          :    Ayah Klien.

B.     RIWAYAT KESEHATAN
1.      Keluhan utama : orang tua klien mengatakan anak demam, kurang nafsu makan, sulit bernapas.
2.      RKS : Pasien datang ke . RS Pertamina Jakarta pada hari senin, 20 Desember 2009 jam 10.00 WIB dengan keadaan lemah, demam yang tidak terlalu tinggi, sulit untuk bernapas, keluarga pasien mengatakan pasien kurang nafsu makan sejak 4 hari yang lalu, keluarga pasien juga mengatakan tidak banyak tahu mengapa anaknya menderita gejala demikian.
3.      RKD :            
a.       Pre Natal :
Jumlah kunjungan           :    3 X
Bidan                              :    2 X
HPHT                              :    Tidak diketahui kehamilan baru diketahui pada saat umur kehamilan 7 minggu, karena Ny R tidak tahu tentang kehamilan
Kenaikan BB                  :    12 Kg
Obat-obatan                    :    Imunisasi TT 1 X
Rencana kehamilan         :    Direncanakan
Status kehamilan             :    G1P0A0

b.      Natal :
      Ibu klien melahirkan ditolong oleh bidan dengan partus normal, usia kehamilan 34 minggu dan status kehamilan G1P0A0, ketuban jernih, ketuban pecah dini tidak terjadi, lama persalinan 2 jam dari pembukaan sampai keluarnya bayi.

c.       Neo Natal :
Kondisi pada saat bayi lahir bernapas spontan, aktifitas bayi pada saatbaru lahir menangis dengan spontan, berat badan bayi 2700 gr dan panjang bayi 47 cm

d.      Post Natal :
ü  Bayi menyusu dengan baik
ü  Reflek menangis cukup
ü  Bayi bergerak aktif

e.       Riwayat tumbang
ü  BB bayi bertambah sesuai dengan usia
ü  Pasien sudah dapat berjalan dengan baik
ü  Pasien sudah dapat berbicara dengan baik
ü  Perkembangan otak cukup

f.       Riwayat Kesehatan Keluarga
Dalam keluarga tidak ada mengalami penyakit yang mirip dengan yang diderita klien, dan tidak ada penyakit herediter dalam keluarga.

g.      Riwayat Imunisasi :
An. F hanya mendapatkan imunisasi BCG dan campak saja karena ibu pasien mempunyai persepsi bahwa imunisasi itu tidak perlu

h.      Dampak Hospitalisasi
An F merasa takut ini ditunjukkan saat perawat datang anak memeluk ibu dan merengek minta gendong.

i.        Riwayat kesehatan mental dan spiritual
Orang tua pasien sangat cemas dengan keadaan pasien, orang tua pasien sering bertanya tentang keadaan pasien apa yang sedang dialami pasien karena orang tua tidak tahu tentang penyakit yang deiderita anaknya. Orang tua sering berdo’a agar penyakit anaknya cepat sembuh, emosi orang tua baik. Pola interaksi orang tua pasien baik, dilihat dari banyaknya orang lain dan keluarga dekat berkunjung.

j.        Kebiasaan sehari-hari :
Kebiasaan
Di Rumah
Di Rumah Sakit
1. Nutrisi :
a.) Makan :
Ø  Pola Makan.
Ø  Jenis Makanan.
Ø  Porsi Makan.
                                                  b.) Minum :
Ø  Jenis Minuman.
Ø  Jumlah Minuman.
                                            
2.  Eleminasi :
a.)        BAB.                                                 
Ø Frekwensi.
Ø Konsistensi.
Ø Warna. 
Ø Bau.
      b.)  BAK.
Ø Frekwensi.
Ø Warna. 
Ø Bau.

1.           Istirahat Tidur :
Ø  Frekwensi.
Ø  Gangguan Tidur

2.           Personal Hygiene :
a.)Mandi.                                
Ø Frekwensi. 
Ø Pakai Sabun.
    b.) Cuci Rambut.
Ø Frekwensi.
Ø Pakai Shampo.
   c.) Gosok Gigi.
Ø Frekwensi.   
Ø Pakai Pasta Gigi.                                                                                                      



3x/hari.               
  Menu Seimbang.       
1 Porsi.


Air Putih.         
        +/- 3-5 gelas/hari.



1-2x/hari.
Lembek.
Kuning.
Khas

+/- 5x/hari.
Jernih.
Khas.


3-4x/hari.
Tidak Ada.




2x/hari.
Ya.

2x/hari.
Ya.

2x/hari.
Ya.


2x/hari.
Diet tinggi protein.                     1/4 Porsi


Air Putih.
+/- 4-6 gelas/hari.



2x/hari.
Lembek.
Kuning.
Khas

+/- 6x/hari.
Jernih.
Khas.


3-4x/hari.
Ada.



-
-


-
-

-
-

k.      Pemeriksaan Fisik (Head To Toe)
Pengkajian pada An. F tanggal 20 Desember  2009 pukul 10.00WIB :
ü  Keadaan Umum : Klien Sadar Penuh (CM).
ü  TTV :
                        TD       : -
                        N         : 60x/menit.
                        S          : 38,50C.
                        RR       : 26x/menit.
ü  GCS,    : E = 4
             : M = 6
               : V = 5
            JUMLAH : 15
1. Pemeriksaan Kepala :
   Inspeksi : Warna rambut hitam, penyebaran merata.
   Palpasi    : Tidak terdapat benjolan.
a.)    Mata
Inspeksi : Tidak terdapat sekret, konjungtiva unanemis, penglihatan baik.
b.)    Hidung
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada pembengkakan, tidak terdapat secret adanya cuping hidung pada saat bernapas.
c.)    Mulut
Inspeksi : Mukosa bibir kering, warna merah, tidak terdapat lesi adanya kemerahan pada daerah faring.
d.)   Telinga
Inspeksi : Bersih tidak terdapat serumen, tidak ada lesi.                     Palpasi     :    Tidak terdapat benjolan, tidak ada peradangan,                              pendengaran baik.
2. Leher : 
    Inspeksi : warna kulit merata.
     Palpasi   : adanya pembesaran kelenjar tiroid
3. Dada/Thorak :
Inspeksi : Bentuk dada simetris, tidak terdapat lesi, warna kulit sama dengan sekitar adanya otot bantu pernapasan.
Palpasi   : Tidak terdapat benjolan, pengembangan paru kiri & kanan tidak sama.
Perkusi  : Bunyi jantung dullness, bunyi paru resonances.
Auskultasi : Pernapasan whizzing.
4. Abdomen :
      Inspeksi : Tidak terdapat lesi, tidak ada luka bekas operasi, warna sama dengan sekitar.
      Palpasi : Tidak terdapat benjolan.
      Auskultasi : Bising usus 20x/menit.
      Perkusi : Bunyi tympani.
5. Genetalia :
      Inspeksi : Tidak terdapat lesi, warna sama dengan sekitar, tidak terdapat iritasi, bentuk simetris.
      Palpasi : Tidak ada pembengkakan.
6. Extremitas :
      a.) Atas : Tangan kanan terpasang infus, pergerakan lemah,reflek bisep & trisep          baik.
      b.) Bawah : Pergerakan lemah,reflek patela baik, reflek bisep & trisep baik.
7.  Kulit : Putih, turgor baik, texture halus, klien banyak mengeluarkan keringat.
l.        Pemeriksaan Penunjang.
            Ronxen
m.    Pengobatan :         Diberikan Diazepam secara oral dengan dosis 0,3 – 0,5 mg/kg BB/hari dibagi dalam 3 dosis saat pasien demam. Diazepam dapat pula diberikan secara intra rektal tiap 8 jam sebanyak 5 mg bila BB <> 10 kg setiap pasien menunjukkan suhu lebih dari 38,50 C.

 C.    ANALISA DATA
1. CP I (Pengkajian).

              Nama   : An. F.                                        No. Reg           : 007.
              Umur    : 2 th.                                          Ruangan          : Mawar.

No.
Data Senjang.
Interprestasi Data
Masalah
1.














2.









3.

DS :klien me-nyatakan sesak napas
Do : RR : 26 X/menit












DS : Klien me- nyatakan demam, nyeri pada saat menelan, dan kurang nafsu makan
Do : T : 38,5 °C
Porsi makan ¼ porsi




Ds. Kelurga pasien tidak tahu banyak ttg penyakit yg diderita anaknya.
Do. Orang tua klien tampak cemas
Orang tua klien sering bertanya ttg penyakit anaknya.
Corynebacterium
Masuk melalui saluran pencernaan atau pernapasan
Aliran sistemik

Masa inkubasi 2-5 hari

Mengeluarkan toksin

Menginfeksi laring

Obstruksi saluranan napas
 

Corynebacterium

Masuk melalui saluran pencernaan atau pernapasan
 

Aliran sistemik
Masa inkubasi 2-5 hari
 

Mengeluarkan toksin

Menginfeksi laring

Terjadi pembengkakan pada laring yang terinfeksi
 

Penyakit yang diderita klien

Perubahan fisik dan psikologi

kecemasan
Gangguan pemenuhan O2













Gangguan pemenuhan nutrisi







Gangguan rasa nyaman, cemas












































2. CP 2 (Diagnosa).

              Nama   : an. F.                                         No. Reg           : 007.
              Umur    : 2 th.                                          Ruangan          : Mawar.

No.
Diagnosa Keperawatan
Tanggal Masuk
Paraf & nama jelas
Tanggal Keluar
Paraf & nama jelas
1.
Tidak efektifnya jalan napas b.d obstruksi jalan napas
20 Desember  2009
Heru
-
Heru
2.



3.
Gangguan pemenuhan nutrisi b.d kesulitan menelan akibat peradangan.
Gangguan rasa nyaman, cemas b.d kurangnya pengetahuan klien dan keluarga ttg penyakit.

20 Desember  2009

20 Desember 2009
Heru



Heru

-



-
Heru



Heru

 3. CP 3 (Intervensi).

              Nama   : An.F                                          No. Reg           : 007.
              Umur    : 2 th.                                          Ruangan          : Mawar.

No.
Hari/ tanggal
Tujuan & Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
Paraf & nama
1.
Senin 20 Desember 2009
Setelah di lakukan perawatan selama 7x24 jam resiko kejang diharapkan pasien menunjukkan tanda-tanda napas efektif, dengan kriteria :
- pasien tampak tenang
- irama dan bunyi napas normal
- tidak ada secret
-       Pasien tampak tenag

1. observasi TTV

2. kaji stastus pernapasan, observasi irama dan bunyi napas
3. atur posisi kepala dg posisi ekstremitas
4. suction jalan napas jika terdapat sumbatan
5. berikan O2 sebelum dan sesudah dilakukan suction
6 lakukan fisiotrapi dada
7. kolaborasi dg tim medis dalam pemberian anti biotic, dan anti piretik.

1.      U/ menge-tahui sejauh mana perubahan TTV
2.      Obstgruksi dapat terjadi karena pemumpukan secret, perdarahan, spasme jalan napas
3.      Meningkatkan drainase ventilasi seluruh bagian paru
4.      Suction tidak boleh rutin karena banyak efek negative
5.      Meningkatkan saluran napas dan keseimbangan pada kedua belah paru
6.      Membantu mengeluarkan secret
7.      Mengurangi efek toksin dari kuman/virus

Heru




Heru







Heru




     Heru




Heru





Heru

2.











3.

Senin 20 Desember 2009









20 desember 2009




Setelah di lakukan perawatan selama 7x24 jam gangguan pemenuhan nutrisi dapat teratasi dg criteria :
- klien meg habiskan porsi makannya




Setelah dilakukan penkes klien dan keluarga dpat memahami ttg penyakit dan cara perawatan dg criteria hasil :
- klien tampak tenang
- keluarga dan klien tidak gelisah lagi
- keluarga dapat menjelaskan kembali ttg proses perawatan anaknya.


A. Mandiri :

1. Observasi tanda-tanda vital.
2. kaji kebutuhan nutrisi klien
3. kolaborasi dg tim medis dalam pemberian nutrisi yg seimbang

1. kaji tingkat kecemasan



2. berikan kesempatan kelurga mengekspresikan perasaannya
3. berikan penyuluhan ttg pengertian, etiologi komplikasi dan penatalaksanaan difteri dirumah
4. lakukan umpan balik terhadap kegiatan
1. Untuk mengontrol status fisik pasien.
2.menge- tahui jumlah nutrisi yg dibutuhkan
3. menerapkan diit yang sesuai dg penyakit klien

1. meng- tahui sejauh mana kecemasan yg dirasakan

2. memudahkan dl penerimaan info
3. meningkatkan pengetahuan keluarga ttg penyakit dan cara perawatan dirumah
4. penyebab evalusi tindakan yang telah dilakukan.

Heru



Heru


Heru




Heru




Heru

4. CP 4 (Implementasi).
               Nama   : An. F                                         No. Reg           : 007.
              Umur    : 2 th.                                          Ruangan          : Mawar.

No.
Hari/tanggal
Implementasi
Respon Hasil
Paraf & nama
1.
Senin 20desember 2009

12.00 WIB

08.30 WIB





09.00WIB

09.30 WIB

10.30 WIB



11.30 WIB
1. Mengobservasi ttv
2.mengkaji kebutuhan nutrisi, dan tingkat kecemasan yang dialami.
3. mengatur posisi semi fowler pd klien
4. memberikan kesempatan pd kel u/ mengrkspresiakn perasanya.
5. memberikan penyuluhan pd kel dan klien.
6. memberikan pemenuhan nutrisi dan pemberian obat.
7. melakukan fisioterapi dada
1. N     : 60x/menit.
S          : 38,50C.
RR       : 26x/menit.
2. klien diberi makan sedikit tapi sering, dan kecemsan sangat tinggi
3. klien dapat bernapas dg normal dg posisi smi fowler
4. keluarga mengekspresikan perasaan dg menangis dan berdo’a kpd THYME
5. kel klien mendengarkan penkes yg diberikan
6. klien memakan makanan dan meminum obat
7.  secret banyak keluar
Heru


Heru


Heru


Heru



Heru

Heru

2.

Selasa, 21 Desember 2009


1. Mengobservasi ttv
2.mengkaji kebutuhan nutrisi, dan tingkat kecemasan yang dialami.
3. mengatur posisi semi fowler pd klien
4. memberikan kesempatan pd kel u/ mengrkspresiakn perasanya.
5. memberikan penyuluhan pd kel dan klien.
6. memberikan pemenuhan nutrisi dan pemberian obat.
7. melakukan fisioterapi dada
1. N     : 60x/menit.
S          : 38,50C.
RR       : 26x/menit.
2. klien diberi makan sedikit tapi sering, dan kecemsan sangat tinggi
3. klien dapat bernapas dg normal dg posisi smi fowler
4. keluarga mengekspresikan perasaan dg menangis dan berdo’a kpd THYME
5. kel klien mendengarkan penkes yg diberikan
6. klien memakan makanan dan meminum obat
7.  secret banyak keluar



Heru


Heru


Heru



Heru

Heru.




 5. Evaluasi).
              Nama   : An.F                                          No. Reg           : 007.
              Umur    : 2 th.                                          Ruangan          : Mawar.
No.
Hari/tanggal
Catatan Perkembangan
Paraf & nama
1.







2.







3.
Rabu, 22 Desember 2009






Rabu, 22 Desember 2009






Rabu, 22 Desember 2009
 S : klien masih brnapas mengunakan otot bantu napas.
O : RR : 26 X/menit.
A  : Tujuan belum tercapai
P   : intervensi dilanjutkan
S : klien menyatakan masih sulit untuk menelan.
O : porsi makan masih ¼ porsi.

A  : Tujuan belum tercapai .

P   : lanjutkan intervensi

S: Klien dan keluarga dapat menjelaskan dg bahasanya sendiri ttg penyakit yg diderita anaknya
O : kel dapat menjelaskan lebih dari setengah dari penatalaksanaan yg diberikan dirumah
A : tujuan tercapai
P ; hentikan intervensi tapi kaji jika terjadi kecemasan kembali






Heru







Heru





Heru

Senin, 12 April 2010

PENGKLASIFIKASIAN TATA NAMA ENZIM



BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Enzim merupakan polimer biologik yang mengatalisis lebih dari satu proses dinamik yang memungkinkan kehidupan seperti yang kita kenal sekarang. Sebagai determinan yang menentukan kecepatan berlangsungnya berbagai peristiwa fisiologik, enzim memainkan peranan sentral dalam masalah kesehatan dan penyakit. Pemecahan makanan untuk memasok energi serta unsur-unsur kimia pembangunan tubuh (building blocks); perakitan building blocks tersebut menjadi protein, membran sel, serta DNA yang mengkodekan informasi genetik; dan akhirnya penggunaan energi untuk menghasilkan gerakan sel, semua ini dimungkinkan dengan adanya kerja enzim-enzim yang terkoordinasi secara cermat. Sementara dalam keadaan sehat semua proses fisiologis akan berlangsung dalam cara yang tersusun rapi serta teratur dan homeostatis tetap dipertahankan, homeostatis dapat mengalami gangguan berat pada keadaan patologis. Sebagai contoh, cedera jaringan hebat yang mencirikan penyakit sirosis hepatis dapat menimbulkan gangguan berat pada kemampuan sel membentuk enzim-enzim yang mengatalisis berbagai proses metabolisme penting seperti sintesis ureum. Ketidakmampuan mengubah ammonia yang toksik menjadi ureum yang nontoksik sebagai akibat dari penyakit tersebut akan diikuti dengan intoksikasi ammonia, dan akhirnya koma hepatikum. Suatu spektrum penyakit genetik langka tetapi yang sering sangat menurunkan keadaan umum penderitanya dan kerap fatal, memberi contoh-contoh tambahan dramatis tentang konsekuensi fisiologis drastis yang dapat menyertai gangguan terhadap aktivitas bahkan hanya satu enzim.
Menyusul suatu cedera jaringan berat (misal, infark jantung atau paru, cedera remuk pada anggota gerak) atau pertumbuhan sel yang tidak terkendali (misal, karsinoma prostat), enzim yang mungkin khas bagi jaringan tertentu akan dilepas ke dalam darah. Dengan demikian, pengukuran terhadap enzim intrasel ini didalam serum dapat memberikan informasi diagnostik dan prognostic yang tidak ternilai bagi dokter.
  
1.2      Rumusan Masalah
Berdasarkan  latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
ü  Klasifikasi Enzim berdasarkan tipe dan mekanisme reaksi.
1.3      Tujuan
Berdasarkan rumusam masalah maka makala ini bertujuan sebagai berikut:
ü    Mengetahui Klasifikasi Enzim berdasarkan tipe dan mekanisme reaksi.


BAB II
PEMBAHASAN

1       ENZIM DIKLASIFIKASIKAN BERDASARKAN TIPE DAN MEKANISME REAKSI

Satu abad lalu, baru ada beberapa enzim yang dikenal dan kebanyakan di antaranya mengatalisis reaksi hidrolisis ikatan kovalen. Semua enzim ini diidentifikasi dengan penambahan akhiran –ase pada nama substansi atau substrat yang dihidrolisisnya. Jadi, lipase menghidrolisis lemak (Yunani lipos), amilase menghidrolisis pati (Yunani amylon), dan protease menghidrolisis protein. Meskipun banyak sisa peristilahan ini masih tetap bertahan sampai sekarang, pemakaiannya sudah terbukti tidak memadai ketika ditemukan berbagai enzim yang mengatalisis reaksi yang berbeda terhadap substrat yang sama, misal, oksidasi atau reduksi terhadap fungsi alcohol suatu gula. Sementara akhiran -ase tetap digunakan, nama enzim yang ada sekarang ini lebih menekankan pada tipe reaksi yang dikatalisisnya. Sebagai contoh, enzim dehidrogenase mengatalisis pengeluaran hidrogen, sementara enzim transferase mengatalisis reaksi pemindahan gugus. Dengan semakin banyaknya enzim yang ditemukan, ketidakjelasan juga semakin tak terelakkan, dan kerap kali tidak jelas enzim mana yang tengah dibicarakan oleh seorang penyelidik. Untuk mngatasi permasalahan ini, International Union of Biochemistry (IUB) telah mengadopsi sebuah sistem yang kompleks tetapi tidak meragukan bagi peristilahan enzim yang didasarkan pada mekanisme reaksi. Meskipun kejelasan dan pengurangan keraguan tersebut membuat sistem nomenklatur IUB dipakai untuk ujian riset, nama yang lebih pendek tetapi kurang begitu jelas tetap digunakan dalam buku ajar dan laboratorium klinik. Karena alasan tersebut, sistem IUB hanya disampaikan secara sepintas.
1)      Reksi dan enzim yang mengatalisis reaksi tersebut membentuk enem kelas, masing-masing mempunyai 4-13 subkelas.
2)      Nama enzim terdiri atas 2 bagian. Nama pertama menunjukkan substrat. Nama kedua, yang berakhir dengan akhiran –ase, menyatakan tipe reaksi yang dikatalisis.
3)      Informasi tambahan, bila diperlukan untuk menjelaskan reaksi, dapat dituliskan dalam tanda kurung pada bagian akhir; misal, enzim yang mengatalisis reaksi L-malat + NAD+ ® piruvat + CO2 + NADH + H + diberi nama 1.1.1.37 L-malat: NAD+ oksidoreduktase (dekarboksilasi).
4)      Setiap enzim mempunyai nomor kode (EC) yang mencirikan tipe reaksi ke dalam kelas (digit pertama), subkelas (digit kedua), dan subsubkelas (digit ketiga). Digit keempat adalah untuk enzim spesifik. Jadi, EC 2.7.1.1 menyatakan kelas 2 (transferase), subkelas 7 (transfer fosfat), subsubkelas 1 (alcohol merupakan aseptor fosfat). Digit terakhir menyatakan heksokinase atau ATP: D-heksosa 6-fosfotrasferase, sebuah enzim yang mengatalisis pemindahan fosfat dari ATP ke gugus hidroksil pada atom karbon keenam molekul glukosa.
5)      Enzim dibagi ke dalam 7 golongan besar yaitu :
a. Oksidoreduktase.
Enzim oksidoreduktase berperan dalam pemindahan elektron (sebagai e-, atom H, atau ion hidrida) dari suatu senyawa ke suatu akseptor.

b. Transferase.
Enzim transferase memiliki fungsi dalam pemindahan gugus fungsional misalnya gugus asil, amino, metil atau fosfat.
c. Hidrolase.
Jenis reaksi yang dikatalisis oleh enzim hidrolase adalah pemisahan ikatan C-O, C-N, atau C-S dengan penambahan H2O pada ikatan. Hidrolase merupakan enzim-enzim yang menguraikan suatu zat dengan pertolongan air. Hidrolase dibagi atas kelompok kecil berdasarkan substratnya yaitu :

1.      Karbohidrase, yaitu enzim-enzim yang menguraikan golongan karbohidrat.
2.      Kelompok ini masih dipecah lagi menurut karbohidrat yang diuraikannya, misal :
3.      Amilase, yaitu enzim yang menguraikan amilum (suatu polisakarida) menjadi maltosa 9 suatu disakarida).
amilase
 
 

4.                  2 (C6H10O5)n + n H2O                 n C12H22O11
amilum
 
maltosa
 
                        

5.      Maltase, yaitu enzim yang menguraikan maltosa menjadi glukosa
maltase
 
 

6.                C12H22O11 + H20                 2 C6H12O6
maltosa
 
glukosa
 
 


7.      Sukrase, yaitu enzim yang mengubah sukrosa (gula tebu) menjadi glukosa dan fruktosa.
8.      Laktase, yaitu enzim yang mengubah laktase menjadi glukosa dan galaktosa.
9.      Selulase, emzim yang menguraikan selulosa ( suatu polisakarida) menjadi selobiosa ( suatu disakarida)
10.  Pektinase, yaitu enzim yang menguraikan pektin menjadi asam-pektin.
d. Liase.
Enzim liase mengkatalisis reaksi penambahan gugus ke ikatan rangkap atau pembentukan suatu ikatan rangkap yang baru.

e. Isomerase.
Jenis reaksi yang dikatalisis oleh enzim isomerase adalah reaksi pemindahan gugus di dalam molekul untuk menghasilkan bentuk isomerik.

f. ligase.
Enzim ligase mengkatalisis reaksi pembentukan ikatan C-C, C-S, C-O dan C-N disertai penguraian berenergi tinggi misalnya ATP.(2)
g. Polymerase
Reaksi berantai polimerase atau lebih umum dikenal sebagai PCR (kependekan dari istilah bahasa Inggris polymerase chain reaction) merupakan suatu teknik atau metode perbanyakan (replikasi) DNA secara enzimatik tanpa menggunakan organisme. Dengan teknik ini, orang dapat menghasilkan DNA dalam jumlah besar dalam waktu singkat sehingga memudahkan berbagai teknik lain yang menggunakan DNA. Teknik ini dirintis oleh Kary Mullis pada tahun 1983 dan ia memperoleh hadiah Nobel pada tahun 1994 berkat temuannya tersebut. Penerapan PCR banyak dilakukan di bidang biokimia dan biologi molekular karena relatif murah dan hanya memerlukan jumlah sampel yang sangat kecil.

ü  Proses Reaksi Rantai Polimerase(Pcr)

PCR adalah proses enzimatik dimana suatu area spesifik dari DNA direplikasikan berulang-ulang untuk menghasilkan banyak kopi dari sekuen tertentu. ( Saiki et al. 1988, Reynolds et al. 1991 ). Pengkopian molekuler ini meliputi proses pemanasan dan pendinginan sampel dalam suatu siklus panas tertentu yang melebihi dari 30 siklus ( gambar 4.1 ). Dalam setiap periode siklus, sebuah kopi dari sekuen target DNA tersebut dihasilkan untuk setiap molekul yang mengandung sekuan target ( gambar 4.2 ). Keterbatasan dari produk ini ditegaskan dengan oligonukleotida primer yang melengkapi buntut 3’- dari sekuen tersebut.

gambar 4.1
Berkenaan dengan panas beredar profil temperatur untuk PCR. beredar yang berkenaan dengan panas Secara khas melibatkan tiga temperatur berbeda yang diulangi berulang-ulang kali 25--35 kali. Pada 95 derajat celcius, DNA memisahkan atau mengubah sifanya. Pada 60 derajat C, dasar mengikat atau ' mendinginkan (logam)' kepada DNA template dan daerah target ke atas yang diperbesar. Pada 72 derajat C, DNA polimerase meluas dasar dengan pengcopian daerah target yang menggunakan  deoxynucliotide tripospate yang menghalangi. Hak masuk PCR proses adalah sekitar 3 jam di dalam jangka waktu dengan siklus masing-masing yang mengambil 5 beberapa menit pada yang berkenaan dengan panas konvensional cyclers: 1 menit masing-masing pada 94 derajat  C, 60 derajat  C dan 72 derajat C dan sekitar 2 beberapa menit yang lereng antara ke tiga temperatur

gambar 4.2
DNA pembesaran memproses dengan polimerase reaksi berantai. pada setiap siklus dua DNA template dulu dipisahkan (yang diubah sifat) dengan memanaskan. Contoh kemudian mendinginkan ke suatu temperatur sesuai untuk mengikat (mendinginkan (logam)) oligonucleotide dasar akhir temperatur contoh diangkat kepada temperatur yang optimal untuk DNA polymerasenya meluas dasar itu untuk menghasilkan suatu salinan masing-masing DNA template. Karena masing-masing siklus, banyaknya DNA molekul (dengan urutan antara kedua PCR dasar) ganda.

Secara teoritis setelah 30 siklus, telah tercipta kopi dari area target cetakan DNA sebanyak satu milyar ( tabel 4.1 ). Produk PCR ini, yang terkadang disebut sebagai ‘amplicon’, dalam jumlah yang cukup dapat diukur dengan mudah menggunakan berbagai teknik yang akan dibahas lebih lanjut dalam bab teknologi.

PCR umumnya dilakukan dengan jumlah sampel sebanyak 5 – 100 µL. Dengan jumlah yang sangat rendah itu, penguapan dapat menjadi masalah dan akurasi dari pengambilan sampel dapat menjadi tantangan. Di sisi lain, volume sampel yang lebih besar mengarahkan pada masalah keseimbangan panas bagi reaksi pencampuran karena dibutuhkan waktu yang lebih lama bagi perubahan suhu eksternal agar dapat ditransmisikan ke pusat sampel ( bagi sampel yang lebih banyak dibandingkan dengan sampel yang sedikit . Maka, dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk setiap suhu, sehingga keseluruhan waktu siklus panas yang dibutuhkan juga memanjang. Sebagian besar protokol biologi molekuler untuk sampel PCR adalah antara 20 - 50 µL.
Sampel dipipetkan ke dalam berbagai tabung reaksi yang didesain untuk digunakan dalam siklus panas PCR. Tabung yang paling umum digunakan untuk sampel sebanyak 20 – 50 µL adalah tabung berukuran 0,2 mL dengan dinding tipis. Tabung – tabung ini dapat dibeli satuan, dengan atau tanpa tutup, atau juga dibeli berkelompok, yaitu 8 atau 12 tabung berderet dalam kolom. Pada lab yang lebih besar, dalam penjabaran DNA menggunakan PCR, secara rutin digunakan plat berisikan 96 atau 384 tempat.
PCR telah disederhanakan dalam beberapa tahun belakangan ini dengan adanya perangkat reagen yang memudahkan Laboratorium DNA forensik untuk menambahkan cetakan DNA ke dalam campuran PCR yang siap pakai, yang mengandung seluruh komponen yang diperlukan untuk reaksi penjabaran DNA. Perangkat ini telah dioptimisasi melalui usaha penelitian ekstensif oleh pabrik komersiil. Perangkat ini dibuat secara khusus sehingga pemakai tinggal menambahkan larutan dari perangkat ke dalam genom DNA dalam jumlah tertentu. Hasil terbaik dengan perangkat komersiil ini didapatkan jika cetakan DNA ditambahkan dalam jumlah yang cukup untuk berinteraksi dengan larutan dari perangkat tersebut.

DAFTAR PUSTAKA